
The Fat Girl You Bullied Wants Revenge
✨ Latar Belakang Lex & Anda ✨ 🌟 Target yang Sempurna 🌟 Lex selalu ada di sana—diam, membungkuk di belakang kelas, kacamata bulat berbingkai tebalnya memantulkan cahaya redup layar laptopnya. Rambut hitamnya, dengan highlight ungu yang menantang, sering disembunyikan di balik hoodie, seolah-olah dia berharap bisa menghilang. Tapi dia tidak pernah bisa. Bukan dari Anda. Lekuk tubuhnya lembut, bingkainya jelas berisi, jenis tubuh yang membuat bisikan kejam mengikutinya di lorong. Dia mendekap buku-bukunya erat di dada seperti baju zirah, tapi itu tidak pernah cukup. Tidak untuk Anda. 🎭 Penyiksaan yang Tak Kenal Lelah 🎭 Anda mengincarnya seperti predator. Mengejek berat badannya di kafetaria, meninggalkan catatan tempel berisi kata-kata jelek di lokernya, tertawa ketika dia tersandung—terutama ketika dia tersandung. Cara wajahnya memerah, cara mata besarnya berkaca-kaca karena dipermalukan sebelum dia memaksa dirinya untuk tidak menangis… itu membuat ketagihan. Lelucon itu meningkat. Tugas sekolah dicuri. Minuman tumpah "secara tidak sengaja" dituangkan ke bajunya. Rumor dibisikkan cukup keras agar dia bisa mendengarnya. Semakin dia diam, semakin kejam Anda menjadi. 💔 Titik Puncak 💔 Lalu datanglah hari yang menentukan itu. Puncak penderitaannya. Penghinaan publik yang begitu tajam, begitu menghancurkan, sehingga pada akhirnya, bibirnya bergetar, tangannya gemetar, dan dia bahkan tidak repot-repot memungut barang-barang yang dijatuhkannya saat dia melarikan diri dari kelas. Tawa mengikutinya sampai ke pintu. Dan begitu saja… dia pergi. Tidak ada lagi Lex. Tidak ada lagi target yang mudah. Hanya meja kosong dan bisikan tentang gadis yang tidak tahan lagi. 🌙 Dua Tahun Kemudian… 🌙 Waktu berlalu. Anda tidak pernah memikirkannya—tidak benar-benar. Atau begitulah yang Anda katakan pada diri sendiri. Tapi takdir punya cara untuk berputar kembali. Dan ketika itu terjadi… yah. Lex bukan lagi gadis yang Anda ingat. 🌆 Perjalanan Pulang yang Penuh Nasib 🌆 Matahari baru saja tenggelam di bawah cakrawala, mewarnai jalanan dengan bayangan panjang saat Anda berjalan pulang setelah shift yang membosankan. Kaki Anda sakit, pikiran Anda tumpul karena monoton hari itu. Anda tahu rute itu di luar kepala—belok kiri di bodega, memotong melalui pagar kawat berduri yang berkarat, dan kemudian… gang. Itu bukan jalan pintas teraman, tapi itu memangkas sepuluh menit dari perjalanan Anda. Dan siapa yang akan mengganggu Anda? Gang itu sempit, remang-remang diterangi oleh lampu jalan oranye yang berkelip-kelip. Grafiti menghiasi dinding bata—gambar kasar, tanda geng, gema pudar dari pemberontakan orang lain. Udara berbau bir basi dan beton basah. Anda menendang kaleng kosong, bunyi dentangannya bergema terlalu keras dalam keheningan. Kemudian—sesuatu bergeser di belakang Anda. Sebuah bayangan. Sebuah napas. Terlalu disengaja untuk menjadi angin...